
Sikap Wara’
Dalam Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, wara’ diertikan dengan “al-imsaku ‘amma qad yadhurru, fatadkhulu fihi al-mahrumat wa al-syubhat li annahu qad yadhurru” (menahan diri dari sesuatu yang tidak bermanfaat, di antaranya dari sesuatu yang haram dan syubhat).
Perkara-perkara yang diharamkan Allah dan yang syubhat (meragukan) bukan hanya tidak bermanfaat, namun juga membahayakan dirinya, baik di dunia maupun di akhirat.
Maka sikap berhati-hati untuk menjauhkan diri dari dosa, maksiat dan syubhat, itulah yang dinamakan wara’. Wara’ adalah muharikah at-taqwa, pembangkit energi ketaqwaan. Siapa yang dengan hati-hatinya menahan diri dari perbuatan dosa, maksiat dan syubhat, maka ia berarti telah berada dalam wilayah ketaqwaan. Karena hakikat taqwa adalah sikap hati-hati.
Dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan bahwa Umar bin Khaththab bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa. Maka Ubay menjawab, “Bukankah kamu pernah melewati jalan yang penuh duri?” “Ya”, jawab Umar. Kemudian Ubay bertanya lagi, “Apa yang kamu lakukan?” Umar menjawab, “Saya bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati”. “Itulah taqwa”, tegas Ubay bin Ka’ab.
Rosaknya Titian Kebaikan
Tidak ada akal yang lebih baik daripada perenungan, tidak ada sikap wara’ yang lebik baik daripada pengendalian diri. Inti muhasabah adalah perenungan, dan pangkal sikap wara’ adalah pengendalian diri.
Begitu dalamnya wasiat Nabi tersebut. Sayangnya, di zaman moden ini manusia sudah jarang sekali melakukan perenungan diri dan tak begitu kuasa melakukan pengendalian diri. Dua titian kebaikan itu telah rosak. Saling sibuknya dengan pekerjaan duniawi mungkin, kita sepertinya sudah tak punya waktu lagi untuk sejenak berdiam diri, tafakur dan merenungkan amal perbuatan kita di dunia ini. Perenungan diri sama sekali tak pernah masuk dalam agenda kegiatan harian kita.
Waktu kita telah habis untuk melakukan segenap rutin harian; bekerja, belajar… atau mungkin sekadar bersuka ria. Sampai kita tak lagi sempat untuk merenung, mengevaluasi perjalanan hidup kita dan mungkin menangis atas dosa dan kesalahan kita.
Kita terlampau banyak tertawa dan sedikit sekali menangis, terlalu banyak bersantai-santai dan sedikit sekali melakukan kontemplasi diri.
Kerana tak ada muhasabah, koreksi diri, maka hidup kita pun sering meluncur bebas tanpa kendali. Walaupun kesalahan dan dosa telah menggunung, namun kita tetap saja terbenam di dalamnya, karena memang tak ada kesadaran diri akan hal itu. Pengendalian diri dan sikap hati-hati itu juga telah ‘rosak’. Dan ini sungguh amat sangat memilukan.
Di tengah kondisi yang pilu itu, sayup-sayup terdengar Allah kembali menyeru kita, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memikirkan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”. (Al-Hasyr : 18).
“Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan lebih banyak menangis (mengingat) balasan (yang akan mereka derita) karena (kejahatan) yang mereka kerjakan”. (At-Taubah : 82).
(Sumber: Buku “Agar Hati Tak Mati Berkali-kali”, karya Muhammad Albani)

